
Penggunaan teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari disebut telah membuat rentang perhatian manusia semakin pendek. Kini, sejumlah peneliti mulai menyoroti dampak kecerdasan buatan (AI) yang dikhawatirkan dapat mempercepat tren tersebut.
Salah satunya adalah Gloria Mark, psikolog dari University of California, Irvine, yang selama lebih dari dua dekade meneliti hubungan antara teknologi dan perhatian manusia.
Dalam penelitiannya, Mark menemukan bahwa kemampuan seseorang untuk fokus pada satu aktivitas terus menurun dalam beberapa tahun terakhir.
Pada 2003, rata-rata seseorang dapat mempertahankan perhatian pada satu tugas selama sekitar 2,5 menit. Ketika penelitian serupa dilakukan kembali pada 2012, angka tersebut turun menjadi sekitar 75 detik. Dalam studi yang dilakukan antara 2014 hingga 2020, rentang perhatian rata-rata bahkan tercatat hanya sekitar 47 detik.
Menurut Mark, perpindahan perhatian yang terlalu sering tidak hanya membuat pekerjaan menjadi kurang efisien, tetapi juga meningkatkan tingkat stres.
AI Dinilai Dapat Mengurangi Proses Berpikir Mendalam
Mark juga mengungkap kekhawatirannya terhadap penggunaan AI generatif seperti ChatGPT, Claude, dan Gemini.
Menurutnya, ketika pengguna terlalu sering meminta AI untuk merangkum, menganalisis, atau mengevaluasi informasi, mereka berisiko kehilangan kesempatan untuk melakukan proses berpikir mendalam secara mandiri.
Proses tersebut sebenarnya penting untuk memahami informasi, membangun ingatan, dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis.
Jika terlalu banyak tugas intelektual dialihkan ke AI, kemampuan kognitif manusia dikhawatirkan dapat melemah seiring waktu karena jarang digunakan.
Mark mengibaratkan kondisi tersebut seperti otot yang kehilangan kekuatan karena tidak pernah dilatih.
Risiko terhadap Kecerdasan Emosional
Selain kemampuan berpikir, Mark juga menyoroti kemungkinan dampak AI terhadap kecerdasan emosional.
Meningkatnya penggunaan chatbot sebagai teman virtual atau pendamping digital dapat mengurangi interaksi sosial secara langsung. Dalam jangka panjang, hal tersebut dikhawatirkan memengaruhi kemampuan seseorang memahami emosi, empati, dan hubungan sosial.
Meski demikian, Mark menegaskan bahwa penelitian mengenai dampak jangka panjang AI terhadap kemampuan kognitif dan emosional masih terus berkembang.
Teknologi Tetap Bisa Digunakan Secara Sehat
Menurut Mark, solusi atas masalah ini bukan dengan meninggalkan teknologi sepenuhnya, melainkan dengan membangun kebiasaan digital yang lebih sehat.
Ia menyarankan agar pengguna tetap melatih kemampuan berpikir secara aktif, misalnya dengan membaca buku secara utuh, menulis, berdiskusi, dan membatasi ketergantungan pada ringkasan otomatis yang dihasilkan AI.
Selain itu, interaksi sosial secara langsung juga dinilai penting untuk menjaga kemampuan emosional dan komunikasi manusia.
“Kita tidak bisa meninggalkan teknologi, tetapi kita perlu menciptakan kebiasaan baru dalam menggunakannya,” ujar Mark.
Seiring semakin luasnya penggunaan AI generatif, pertanyaan mengenai dampaknya terhadap cara manusia berpikir dan belajar kemungkinan akan menjadi salah satu topik penting yang terus diteliti dalam beberapa tahun mendatang.
Sumber: Baca artikel asli di sini




